You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Pamotan
Pamotan

Kec. Pamotan, Kab. Rembang, Provinsi Jawa Tengah

Rukun Bareng Guyub Bareng, Maju dan Makmur Bersama -- selengkapnya...

Puluhan Orang Ikut Ruwatan di Lasem Rembang Jelang 1 Suro

AGUNG SUBEKTI 29 Juni 2026 Dibaca 16 Kali

Rembang - Sebanyak 35 warga dari Rembang, Kudus, Tuban, hingga Jogja, mengikuti ritual ruwatan menjelang malam 1 Suro di Desa Gedongmulyo, Kecamatan Lasem, Rembang, malam ini. Ritual yang digelar Kumpulan Jowo Lasem Sanggar Pamujan itu diawali dengan prosesi pembersihan diri, lalu dilanjutkan jamasan dan warangan pusaka.

Pantauan detikJateng di lokasi, area belakang rumah sesepuh Kumpulan Jowo Lasem Sanggar Pamujan, Ernantoro, telah ditata untuk pelaksanaan ritual. Sejumlah kursi disusun berjajar untuk peserta ruwatan. Berbagai pusaka yang akan menjalani proses jamasan dan warangan juga telah dipersiapkan.

Beberapa perlengkapan ritual sudah tertata di lokasi, mulai wadah berisi air kembang, bunga setaman, hingga dupa.Ernantoro mengatakan air itu merupakan campuran dari sejumlah sumber mata air yang dianggap memiliki nilai historis dan spiritual di wilayah Rembang.

"Airnya kita ambil dari beberapa sumber mata air. Ada dari sumur Sunan Bonang, sumber Kajar, dan sumber Gowak yang dikenal sebagai tempat pemandian Dewi Indu (tokoh yang dalam cerita rakyat dipercaya sebagai ratu Lasem pada zaman dulu)," kata Ernantoro kepada detikJateng, Senin (15/6/2026).                                                                                                                               

"Air dari berbagai sumber yang memiliki nilai sejarah dan budaya itu digunakan sebagai media dalam prosesi pembersihan diri menjelang satu suro," sambungnya.Suasana semakin khidmat dengan alunan gamelan dan gending-gending Jawa yang mengiringi prosesi. Satu per satu peserta kemudian dipanggil untuk diruwat. Mereka duduk di kursi dengan tubuh dibalut kain putih. Ernantoro memimpin prosesi dengan menyentuh dahi peserta.


Setelah itu, air bunga diguyurkan dari atas kepala beberapa kali. Sebagai penutup rangkaian ruwatan, Ernantoro memotong sehelai rambut peserta yang kemudian dimasukkan ke dalam wadah berisi air kembang. Prosesi tersebut dilakukan secara bergantian.


Ernantoro mengatakan, ruwatan dan warangan merupakan rangkaian tradisi yang rutin digelar setiap menjelang pergantian tahun Jawa. Menurutnya, ritual itu memiliki makna pembersihan diri dari berbagai hal negatif yang selama ini melekat dalam diri manusia.

"Bahwasanya manusia memiliki kekotoran dalam pikiran maupun dalam hati. Maka pada momentum malam satu Suro ini kita membersihkan diri," tutur Ernantoro.

Ia menjelaskan, pembersihan yang dimaksud bukan sekadar secara fisik, melainkan lebih kepada pembenahan batin dan pikiran. Karena itu, peserta yang mengikuti ritual juga dianjurkan mempersiapkan diri terlebih dahulu dengan puasa Senin Kamis.


"Pesertanya ada sekitar 35 orang. Ada perempuan, laki-laki juga. Mereka orang dewasa semua yang ikut ruwatan," ujarnya.

Usai prosesi ruwatan, kegiatan dilanjutkan dengan warangan atau penyucian pusaka. Dalam tradisi Jawa, warangan dilakukan untuk membersihkan sekaligus merawat keris agar tetap terjaga kondisinya.

Selain itu, para peserta juga mendapatkan wejangan. Wejangan tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian ritual karena berisi pengingat agar manusia senantiasa menjaga perilaku dan memperbaiki diri.

Ernantoro mengatakan, tradisi yang digelar pihaknya bukanlah kegiatan baru. Ritual tersebut telah berlangsung sejak tahun 1995

"Alhamdulillah masih berjalan sampai sekarang. Banyak yang datang dari luar daerah juga untuk ikut ruwatan," katanya.

Bagi para peserta, ruwatan memiliki makna yang berbeda-beda. Namun sebagian besar memandang ritual tersebut sebagai sarana introspeksi diri sekaligus doa agar diberikan keselamatan dalam menjalani kehidupan ke depan.

Sugiono, warga Sumbergirang, Kecamatan Lasem, menjadi salah satu peserta yang rutin mengikuti kegiatan tersebut. Tahun ini merupakan kali keempat dirinya menjalani ruwatan menjelang malam 1 Suro.

Ia mengaku mengikuti ritual itu karena percaya pentingnya membersihkan hati dan pikiran dari berbagai hal negatif yang dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari.

"Niatnya untuk membersihkan diri dari kotoran hati dan tolak bala. Harapannya dijauhkan dari kesialan selama setahun ke depan," ujar Sugiono.

Hal senada disampaikan Abdul Wahab, warga Desa Ketangi, Kecamatan Pamotan. Ia menilai malam 1 Suro memiliki kedudukan khusus dalam budaya Jawa sehingga momentum tersebut dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus memperbaiki diri.

"Momentum satu Suro bagi orang Jawa memiliki makna tersendiri. Karena itu dimanfaatkan untuk membersihkan hati melalui ruwatan," kata Wahab.

Ia berharap melalui ritual tersebut dirinya dan keluarga dapat terhindar dari berbagai musibah maupun kesialan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

"Dengan begitu diharapkan dapat terhindar dari kesialan atau hal-hal buruk. Istilah orang Jawa itu tolak balak," pungkasnya.


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



 

APBDes 2026 Pelaksanaan

APBDes 2026 Pendapatan

APBDes 2026 Pembelanjaan

Kabar Rembang